✦ FortuneLeaf

Ramalan Timur

Dua belas jam ganda — bagaimana Timur membagi hari menjadi dua belas jam hewan

Sebelum membagi hari menjadi dua puluh empat jam, masyarakat Asia Timur memilahnya menjadi dua belas segmen. Ini disebut “dua belas jam ganda,” atau shichen, dan satu di antaranya setara dengan sekitar dua jam modern kita. Masing-masing diberi, secara bergiliran, nama salah satu dari dua belas hewan zodiak yang akrab dari tanda tahun. Itu adalah rasa waktu yang lebih santai, yang menyebut jam bukan dengan angka, melainkan dengan nama hewan.

Strukturnya begini. Hari dimulai dengan “jam tikus,” yang memuat tengah malam — kira-kira dari pukul sebelas malam sampai pukul satu dini hari — lalu mengalir melalui jam kerbau, jam harimau, jam kelinci, dan seterusnya sampai yang terakhir, jam babi. Puncak tengah hari jatuh pada “jam kuda”; dalam banyak bahasa Asia Timur aksara untuk jam kuda adalah kata untuk tengah hari itu sendiri. Maka dua belas hewan masing-masing menjaga sepotong dua jam dari hari itu.

Dua belas jam ini meresap ke dalam kehidupan sehari-hari. Buka-tutup gerbang kota, dan penanda waktu dengan lonceng dan genderang, disesuaikan dengan jam ganda; dan, di atas segalanya, “jam kelahiran” yang begitu penting dalam saju dihitung dengan kedua belas ini. Saju menegakkan tahun, bulan, hari, dan jam kelahiran menjadi empat pilar, dan pilar terakhir itu, “pilar jam,” ditetapkan oleh jam ganda mana kamu dilahirkan. Maka dua orang yang lahir pada hari yang sama, tetapi di jam ganda yang berbeda, memiliki bagan dengan serat berbeda: jika tanda tahun adalah hewan tahunmu, jam kelahiran menambahkan satu lagi, hewan dari waktu harimu.

Namun, ada yang perlu dikatakan dengan jujur. Dua belas jam pada akarnya bukanlah ramalan yang mengklaim sebab, melainkan “bahasa waktu” yang memilah hari dengan bersandar pada aliran alam. Konon orang dahulu memasangkan tiap jam ganda dengan saat ketika mereka menganggap hewan itu paling lincah, menempatkan tikus yang rajin, misalnya, di kedalaman malam yang sunyi. Ini bukan sebab ilmiah, melainkan khayalan lembut yang mengingat ritme hari lewat sosok hewan. Ini juga budaya yang dibagikan beberapa negara di Asia Timur.

Maka dua belas jam lebih merupakan jendela ke bagaimana Timur merasakan aliran sebuah hari, ketimbang vonis bahwa “jam kelahiranku menetapkan keberuntunganku.” Cara santai menyebut jam dengan nama hewan, alih-alih dengan piringan angka, bahkan dapat membiarkan kita menarik napas di tengah hari yang sibuk. Seperti biasa di FortuneLeaf, ini disajikan bukan sebagai nasib yang baku, melainkan sebagai satu kesenangan kecil menikmati sebuah hari secara lebih mendalam.

Buka aplikasi FortuneLeaf →

Konten ini untuk hiburan dan refleksi diri berdasarkan tradisi dan simbolisme, bukan fakta ilmiah.