✦ FortuneLeaf

Ramalan Timur

Syarat Tempat yang Baik — Lahan yang Sejak Lama Dianggap Bertuah

Dalam feng shui, tempat yang bertuah merujuk pada lahan baik tempat manusia dan energi kehidupan dipercaya dapat berdiam dengan tenang. Syarat pertama dan terpenting yang disebut tradisi adalah gunung induk. Gunung induk adalah puncak yang menopang dengan kukuh bagian belakang sebuah lahan dan, layaknya sandaran kursi, dianggap memberi kestabilan pada tempat itu. Hanya ketika punggungan yang menurun dari gunung induk membuka ke kiri dan ke kanan bagai lengan yang terentang, memeluk hamparan dataran terlindung di dalam dekapannya, barulah sebuah lahan dipandang lengkap. Bagian belakang yang terbuka dan kosong dianggap mencerai-beraikan energi, sehingga kehadiran gunung yang menyangga lahan dari belakang dihargai melebihi segalanya.

Tidak ada uraian tentang lahan bertuah yang melewatkan perbukitan penjaga. Inilah punggungan yang mengelilingi empat penjuru, diumpamakan sebagai hewan suci: Kura-kura Hitam di belakang, Burung Merah di depan, Naga Biru di kiri, dan Harimau Putih di kanan. Ketika keempat bukit ini merangkul lembut keempat sisinya, energi kasar dari luar tidak dapat menerobos sembarangan, sementara energi baik di dalam tertahan dan terhimpun. Jika salah satu sisi terlalu rendah atau kosong, energi dipercaya bocor ke arah itu, maka menimbang keseimbangan keempat penjuru diperlakukan dengan saksama.

Prinsip yang kerap disebut berdampingan dengan ini adalah gunung di belakang dan air di depan. Ia melukiskan tatanan yang membelakangi gunung dan menghadap air di hadapannya. Gunung di belakang menahan angin dingin, sedangkan air di depan menunjang kehidupan sehari-hari dan pertanian, sehingga dipandang sebagai penataan yang amat sesuai bagi sebuah hunian. Dua syarat lain pun dihargai: depan rendah belakang tinggi, yakni medan yang lebih rendah di depan dan lebih tinggi di belakang sehingga limpah cahaya matahari dan air mengalir turun secara alami; serta mulut sempit dalam luas, yaitu bentuk yang pintunya sempit namun melebar ke dalam, sehingga energi tidak lepas melainkan terhimpun dengan tenang.

Inti terakhir dari lahan bertuah diyakini terletak pada perpaduan perlindungan angin dan perolehan air. Perlindungan angin berarti menyimpan angin, yaitu bentuk pegunungan yang menutup segala sisi untuk menjinakkan embusan yang dingin dan keras. Perolehan air berarti memperoleh air, ketika aliran jernih mengalir di dekatnya namun tidak melesat lurus pergi, melainkan membelok perlahan mengitari lahan, dan hal itu dihargai. Hanya ketika keduanya terpenuhi sekaligus, memperoleh kestabilan dengan menahan angin dan menambah daya hidup dengan memperoleh air, barulah sebuah tempat disebut tanah bertuah yang sepenuhnya lengkap.

Yang menarik, syarat-syarat tradisional ini secara luas selaras dengan nalar praktis pemukiman. Lahan yang ditopang gunung terasa hangat karena menahan angin dingin barat laut di musim dingin, dan lahan yang menghadap air mudah memperoleh air minum serta air pengairan. Medan yang rendah di depan dan tinggi di belakang berdrainase baik dan tahan banjir, sementara medan yang terkurung di segala sisi pun menguntungkan untuk melindungi desa dari ancaman luar. Maka tempat-tempat yang dianggap bertuah oleh orang dahulu dan dipilih untuk dihuni, dalam banyak hal, merupakan tanah layak huni yang sama-sama cocok bagi pertanian maupun kehidupan menetap.

Dengan demikian, lahan bertuah tidak sekadar menjadi titik untuk meramal nasib; ia dapat dipandang sebagai kearifan pemukiman, yang terhimpun selama berabad-abad mengamati alam dan tertata dalam bahasa bentang darat. Mengamati lahan bertuah berarti membaca alur tanah tempat gunung, air, angin, dan cahaya berpadu, dan di dalamnya, konon, berdenyut cara berpikir tradisional yang berakar dalam, yang berhasrat hidup selaras dengan alam.

Akhirnya, dalam membicarakan lahan bertuah, tak dapat diabaikan titik pengendapan yang terletak tepat di pusatnya. Titik pengendapan adalah tempat energi yang menurun dari gunung induk diyakini akhirnya mengendap pada satu titik, dan bahkan di dalam pelukan luas sebuah lahan bertuah ia dipandang sebagai inti yang tersimpan paling halus. Orang dahulu mengumpamakan titik ini dengan tempat tepat sebuah jarum ditusukkan, dan menganggap tugas menunjuk dengan tepat satu-satunya tempat di tengah lahan yang luas sebagai bagian tersulit dalam feng shui. Di dalam lahan bertuah yang sama pun, peruntungan tempat itu diyakini berbeda menurut di mana titik pengendapan ditetapkan, sehingga menemukan satu titik tempat energi berhimpun paling penuh, setelah menelaah rupa pegunungan dan aliran air di sekeliling, dijadikan gerbang terakhir dalam membaca lahan bertuah.

Buka aplikasi FortuneLeaf →

Konten ini untuk hiburan dan refleksi diri berdasarkan tradisi dan simbolisme, bukan fakta ilmiah.