✦ FortuneLeaf

Ramalan Timur

Apa Itu Feng Shui: Definisi dan Sejarah

Feng shui secara harfiah berarti angin dan air, dan merujuk pada pandangan tradisional tentang geografi yang membaca gerak qi, energi yang mengalir melalui tanah dan ruang, untuk menimbang nasib tempat manusia bermukim. Di dalam bentuk alam, tempat gunung menjulang dan sungai berliku, energi tak kasatmata diyakini berkumpul dan berserak, dan tempat di mana energi itu tertampung dengan baik disebut tempat berkebajikan tinggi. Cara berpikir ini tidak pernah sekadar teknik untuk meramal lahan yang baik; ia menyentuh pertanyaan kuno tentang bagaimana manusia seharusnya hidup selaras dengan alam.

Mengenai asal nama, ada beberapa penjelasan yang diwariskan. Yang banyak dikenal menelusurinya pada ungkapan tentang menyimpan angin dan memperoleh air, yang darinya diambil dua kata: angin dan air. Angin kencang diyakini menyerakkan qi, sedangkan air yang tenang dan terkumpul dianggap menahannya, sehingga tempat yang terlindung dari angin dan dekat dengan air dipandang paling utama. Karena itulah, menurut cerita, feng shui mengambil unsur alam paling dasar, yaitu angin dan air, sebagai namanya sendiri.

Sebagai sebuah teori, feng shui diasah di Tiongkok selama waktu yang panjang. Jinnangjing, yang disebut digubah oleh Guo Pu dari dinasti Jin, dipandang sebagai tulisan yang menata asas bahwa qi menunggang angin lalu berserak, tetapi berhenti ketika bertemu air, dan dihitung sebagai karya klasik yang meletakkan dasar teori kemudian. Setelah itu, feng shui bercabang menjadi aliran yang mengamati bentuk gunung dan sungai serta aliran yang memperhitungkan arah dan asas, semakin halus dan banyak dipakai untuk memilih tempat rumah, desa, dan makam.

Di semenanjung Korea pun feng shui berakar dalam. Pada masa Tiga Kerajaan ia mengakar dengan berpadu pada gagasan pribumi yang memandang tanah sebagai suci, dan menjelang masa Goryeo dikisahkan bahwa biksu Doseon menjelajahi gunung dan sungai seluruh negeri serta menyampaikan gagasan feng shui yang bersifat memperbaiki. Gagasan untuk menguatkan tanah dengan mendirikan kuil atau pagoda di tempat yang energinya lemah tetap menjadi warna khas feng shui Korea. Pada masa Joseon ia mengakar di kehidupan sehari-hari, berpadu dengan tugas memilih tempat tinggal dan makam leluhur kaum cendekia di dalam tatanan Konfusianisme.

Kini feng shui tidak hanya diterima sebagai seni meramal nasib. Ia kembali ditelaah sebagai kearifan memilih lokasi, pandangan terhadap lingkungan, bahkan filsafat bangunan, yang membaca mengapa bangunan tradisional memilih lahan yang membelakangi gunung dan menghadap air, serta bagaimana desa menetapkan tanahnya dengan menimbang angin, cahaya matahari, dan aliran air. Dipandang demikian, feng shui dapat disebut salah satu cabang renungan budaya yang panjang, yang dengannya orang dahulu mengamati alam dan menata tempat tinggalnya dengan bersandar pada tatanannya.

Feng shui membawa serta beberapa anggapan dasar yang menjadi pondasinya. Salah satunya adalah gagasan keselarasan antara energi yang sejenis, yakni pemikiran bahwa energi dari jenis yang sama saling berhubungan dan saling menyahut. Khususnya, leluhur dan keturunan dipandang sebagai energi yang sama yang terhubung oleh satu garis darah, sehingga memakamkan leluhur di tempat yang baik diyakini membuat energi itu sampai kepada keturunan. Di atas anggapan ini, feng shui menjadi memuat, melampaui sekadar teknik untuk memilih lahan yang baik, sebuah pandangan dunia ketika manusia, tanah, dan leluhur terikat oleh energi yang tak kasatmata.

Kerangka yang dengannya feng shui menelaah sebuah tempat sering diringkas menjadi empat unsur: naga, titik pengendapan, bukit yang mengelilingi, dan air. Naga adalah punggungan gunung yang membawa energi saat menurun, titik pengendapan adalah tempat energi itu akhirnya mengendap, bukit yang mengelilingi adalah rupa pegunungan terdekat yang menutup dan melindungi tempat itu, dan air adalah aliran yang menghentikan serta menyimpan energi. Orang dahulu menakar tempat yang baik dengan menelaah langkah demi langkah bagaimana keempat unsur ini berpadu, dan kerangka ini diterapkan secara luas pula saat menetapkan tempat desa dan ibu kota. Pemilihan Hanyang sebagai ibu kota baru Joseon pun diwariskan sebagai hasil penelaahan atas rupa ketika gunung melingkari segala sisi dan air berkelok mengitarinya, yang menunjukkan betapa dalam feng shui menjangkau bahkan ke penempatan ibu kota sebuah negeri.

Buka aplikasi FortuneLeaf →

Konten ini untuk hiburan dan refleksi diri berdasarkan tradisi dan simbolisme, bukan fakta ilmiah.