Gantungkan sebuah beban kecil di ujung seutas benang, pegang diam di ujung jari, ajukan sebuah pertanyaan dari dalam, dan baca ayunannya — ini disebut ramalan bandul (pendulum), atau lebih luas, dowsing. Kristal, cincin, atau liontin kecil — apa pun yang bisa kaugantung pada benang menjadi alatnya. Kebiasaan sederhana ini, yang lama dipakai untuk mencari air dan memilih jalan, kini bertahan sebagai cara menengok dengan tenang ke dalam hati.
Caranya sungguh sederhana. Sandarkan sikumu dengan nyaman, biarkan beban tergantung tanpa gerak, lalu pertama-tama «kalibrasi». Mintalah dalam hati, “tunjukkan padaku ya,” dan bandul mulai bergerak ke satu arah — maju-mundur, kiri-kanan, atau membentuk lingkaran. Minta lagi, “tunjukkan padaku tidak,” dan ia berayun dengan corak yang lain. Setelah menguasai kedua isyarat ini, kamu tinggal mengajukan pertanyaan dari dalam dan menatap dengan tenang ke arah mana beban itu condong.
Inilah kebenaran yang jujur. Yang menggerakkan bandul bukanlah kekuatan luar yang misterius, melainkan biasanya “efek ideomotor” — getaran otot amat halus yang tak kausadari. Maka bandul bukanlah alat yang meramal masa depan, melainkan lebih menyerupai cermin yang menarik keluar kecondongan yang sudah ada dalam dirimu menjadi gerak yang terlihat. Ketika kepala ragu tetapi tubuh sudah tahu jawabannya, ia menyuarakan kecondongan yang tenang itu bagimu.
Cara bijak memakai bandul itu sederhana. Alih-alih menjadikannya alat untuk mengorek fakta atau urusan orang lain, gunakan ia untuk bertanya pada dirimu, “ke arah mana hatiku condong sekarang?” Perkara berat seperti kesehatan atau hukum, atau pertanyaan tentang orang lain, sebaiknya diurai bukan dengan beban, melainkan dengan keadaanmu sendiri, orang-orang di dekatmu, dan bila perlu seorang profesional. Tak ada ayunan yang bisa menentukan pilihanmu untukmu. Seperti biasa FortuneLeaf, yang ditawarkan beban kecil ini bukan jawaban yang baku, melainkan perenungan lembut yang membuatmu menyimak sekali lagi hati batinmu — sebab pada akhirnya, yang mengayunkan bandul bukanlah batu di ujung benang, melainkan hati yang tenang dari dirimu yang memegangnya.