Ketika tahun baru menjelang, banyak rumah tangga Korea telah lama menikmati satu kebiasaan yang dicintai: mengintip peruntungan tahun yang akan datang melalui Tojeong-bigyeol. Sekitar bulan pertama penanggalan lunar, seluruh keluarga berkumpul dan menengok alur tahun bagi masing-masing. Lebih dari sekadar ramalan, ini adalah ritus hangat untuk menyambut tahun baru — cermin untuk membayangkan, lebih dulu, semangat yang dengannya seseorang akan menjalani bulan-bulan ke depan.
Nama Tojeong-bigyeol dalam tradisi terikat erat dengan sarjana pertengahan Joseon Yi Ji-ham, yang dikenal dengan nama pena Tojeong. Namun apakah bentuk yang kita baca hari ini benar-benar keluar dari tangannya sendiri sulit dipastikan, dan sebagian berpendapat ia disempurnakan dan tersebar di generasi kemudian di bawah naungan kemasyhurannya. Yang jelas adalah bahwa, setidaknya sejak Joseon akhir, ia berakar dalam di tengah rakyat dan menjadi kebiasaan tahun baru yang khas.
Cara membaca Tojeong-bigyeol bertumpu pada tanggal lahir. Lambang seksagenari tahun, pilar bulan kelahiran, dan pilar hari kelahiran diikat dengan metode tertentu untuk menghasilkan angka tiga digit, dan gua yang ditunjuk angka itu dicari dan dibaca. Gua-gua ini membentuk seratus empat puluh empat entri yang bercabang dari enam puluh empat heksagram I Ching, dan masing-masing membawa sebait pendek yang mengatakan alur besar sepanjang tahun, bersama dua belas bacaan bulanan yang ditulis dalam baris yang sepadat puisi.
Melihat bagaimana Tojeong-bigyeol berbeda dari Saju penuh membuat pesonanya makin jelas. Jika Saju adalah ilmu yang mengurai dengan presisi delapan aksara dari empat pilar — tahun, bulan, hari, dan jam kelahiran — untuk menatap dalam gambaran luas seumur hidup dan watak bawaan, Tojeong-bigyeol bahkan tak menghitung jam kelahiran; hanya dari tanggal lahir ia mengatakan, dengan sederhana, alur tahun yang satu itu. Cakupannya lebih sempit, hanya setahun, tetapi justru itulah keunggulan besarnya: siapa pun bisa mendekatinya dengan mudah. Bahkan tanpa menjadi pakar yang fasih dalam perhitungan takdir yang dalam, dengan satu buku dan perhitungan sederhana seluruh keluarga bisa duduk bersama dan menengok tahun masing-masing. Kedekatan dan kesederhanaan inilah sebabnya Tojeong-bigyeol dicintai seluas Saju penuh.
Pesona lain Tojeong-bigyeol terletak pada bacaannya yang berupa baris-baris puitis penuh metafora dan lambang. Bait gua kuno kerap menyanyikan energi tahun dengan mengumpamakannya pada pemandangan alam. Baris-baris padat — pohon kering yang menjumpai hujan musim semi, atau naga yang tenggelam di air dalam yang akhirnya memperoleh awan untuk naik ke langit — tidak memaku dan memaksakan satu jawaban yang tetap, melainkan meninggalkan ruang luas bagi pembaca untuk mengukir maknanya sesuai keadaan hidupnya sendiri. Maka baris yang sama terasa sangat berbeda dari orang ke orang, dan menurut situasi yang dihadapi. Seni tafsir yang terbuka ini — menikmati tahun sendiri seperti sebuah puisi alih-alih menerima vonis — adalah kekuatan tenang yang membuat orang membuka Tojeong-bigyeol lagi setiap tahun.
Alasan Tojeong-bigyeol begitu lama dicintai terletak pada penggunaannya yang hangat. Dengan gua yang baik, orang memperoleh keberanian untuk memulai tahun dengan percaya diri; dengan yang keras, mereka menenangkan hati lebih dulu dan menimbang titik-titik yang perlu dijaga. Bacaan bulanan membagi tahun menjadi dua belas ketukan, memberi irama bulan mana untuk menghimpun tenaga dan mana untuk menarik napas. Di atas segalanya, waktu keluarga berkumpul, berbagi bacaan satu sama lain dan bertukar harapan tahun baru, menjadikan Tojeong-bigyeol budaya yang akrab jauh melampaui ramalan biasa.
Untuk membaca Tojeong-bigyeol dengan bijak, baik mengingat satu hal: bacaan ini bukan nubuat yang terbukti secara ilmiah, melainkan alat refleksi diri yang bertumpu pada kearifan tradisional. Tak ada tahun yang melaju tanpa usaha karena muncul gua yang baik, dan tak ada yang terkunci dalam kemalangan yang pasti karena muncul yang keras. Orang dahulu pun menaruh maknanya pada menanamkan kerendahan hati agar tidak jemawa dengan gua yang baik, dan pada memperoleh kearifan persiapan alih-alih keputusasaan dengan yang buruk. Pada akhirnya, yang membentuk sebuah tahun bukan satu baris dalam buku, melainkan pilihan kita sendiri dalam membaca baris itu dan merawat hari ini.
Hingga kini, Tojeong-bigyeol hidup sebagai penuntun hangat untuk menata hati di ambang tahun baru: waktu untuk menyketsa lebih dulu gambaran besar tahun, menimbang corak bulan-bulan mendatang, dan dengan tenang mempertimbangkan apa yang dipupuk dan apa yang diwaspadai. Satu momen refleksi yang tenang itu mungkin adalah hadiah paling berharga yang diwariskan Tojeong-bigyeol selama berabad-abad. Tojeong-bigyeol dari FortuneLeaf pun meminjam kearifan lama ini untuk mendampingimu saat kau membuka tahun baru dengan hati sejengkal lebih jernih dan hangat.