"Tti" adalah kebiasaan lama Asia Timur yang menandai tahun kelahiran dengan satu dari dua belas hewan zodiak: tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Bertanya "shio-mu apa?" sebenarnya sama dengan bertanya "kamu lahir tahun berapa?".
Akarnya menjangkau dalam ke penanggalan Asia Timur kuno. Dua belas cabang pada mulanya bukan hewan, melainkan dua belas lambang yang menandai waktu dan arah. Ia menunjuk jam-jam pembagian hari dan arah mata angin, dan ketika dipadukan dengan sepuluh Batang Langit (energi langit) membentuk siklus enam puluhan yang menyelesaikan satu putaran tiap enam puluh tahun. Ia juga erat dengan pengamatan Jupiter, yang mengelilingi langit kira-kira setiap dua belas tahun. Memberi tiap lambang itu seekor hewan yang akrab dan mudah diingat—yang menyebar luas sejak sekitar Dinasti Han—menjadi "tti" yang kita kenal kini.
Sebuah kisah hangat berada di balik urutan hewan. Ketika Kaisar Giok mengumumkan akan memberi peringkat sesuai urutan kedatangan di pagi Tahun Baru, tikus diam-diam menumpang di punggung kerbau yang rajin dan, tepat sebelum garis akhir, melompat turun untuk merebut peringkat pertama, menyisakan kerbau di posisi kedua. Kisah yang sama menjelaskan mengapa kucing absen dari dua belas: konon tikus sengaja memberi tahu tanggal yang salah sehingga kucing kesiangan—dan itulah sebabnya kucing dan tikus bermusuhan hingga kini.
Kebiasaan ini menyebar ke seluruh Asia Timur—Korea, Tiongkok, Jepang, Vietnam—dengan corak masing-masing. Menariknya, di Vietnam kucing menggantikan kelinci dan kerbau air menggantikan sapi. Orang menakar watak bawaan lewat shio, membaca kecocokan lewat prinsip seperti tiga harmoni, enam persatuan, dan benturan, serta—ketika sungkan menanyakan usia langsung—menanyakan shio untuk menebaknya secara halus. Mereka juga melambangkan satu tahun penuh dengan hewannya, meramal suasana dan energi tahun baru sebagai "tahun hewan ini-itu".
Mengenai masa kini, karena Barat tak punya padanannya, tti kini justru menarik sebagai konten budaya global yang segar. Setiap tahun baru, produk dan desain bertema hewan tahun itu membanjiri dunia, dan ramalan serta kecocokan shio menikmati popularitas yang mantap sebagai konten multibahasa. Bayangan lembut memandang diri sebagai seekor hewan ini tetap hidup dengan semarak, sebagai budaya hangat yang, melampaui analisis kaku, menghubungkan orang lewat cerita.