Ilmu wajah Timur menyimpan kerangka lama yang membaca wajah bagai sebuah bentang alam. Pada rangkanya berdiri Lima Puncak (五嶽), “lima gunung besar.” Mengumpamakannya dengan lima gunung masyhur Tiongkok, orang dahulu mengambil lima bagian wajah yang menonjol sebagai puncak. Sebagaimana sebuah tanah kaya ketika gunung-gunungnya tinggi, tebal, dan selaras, begitu pula energi seseorang dipandang teguh ketika lima puncak wajah menjulang baik dan menjaga keseimbangannya.
Berdiri di pusat kelima itu adalah hidung — Puncak Tengah (中嶽). Tengah wajah dan puncak tertinggi, ia menandai diri serta kekayaan dan kesehatan usia paruh baya. Hidung yang lurus dan berdaging baik menandai orang yang pusatnya teguh. Dahi adalah Puncak Selatan (南嶽); puncak yang menghadap langit, ia memantulkan peruntungan awal, kebijaksanaan, dan landasan sosial. Dagu adalah Puncak Utara (北嶽), puncak yang memijak bumi, menunjukkan kemantapan tahun-tahun akhir serta orang-orang dekat dan kediaman. Dan tulang pipi kiri dan kanan menjadi Puncak Timur (東嶽) dan Barat (西嶽), menyimpan daya paruh baya, kekuatan yang menopangmu, dan energi pergaulan.
Inti membaca Lima Puncak bukan ukuran satu puncak saja, melainkan apakah kelimanya “saling berhadapan dan menopang” (joeung). Setinggi apa pun hidung, bila tulang pipi di kedua sisi tipis, ia terlihat bagai puncak yang berdiri sendiri dengan sedikit penopang; dahi dan dagu harus seimbang di atas dan di bawah agar tahun awal dan akhir mengalir rata. Sebaliknya, sekalipun satu tempat agak lemah, ketika puncak-puncak lain memeluknya dengan lapang, kekurangan itu mudah terisi. Maka pembaca tidak membesarkan satu bagian saja, melainkan membaca seluruh medan yang dibentuk lima gunung sebagai satu bentang.
Namun ada yang tak boleh dilupakan. Lima Puncak bukan tolok ukur yang memaku vonis dari tulang saja, melainkan satu sudut pandang untuk menimbang corak energi yang tampak pada wajah. Wajah terbentuk sementara waktu yang dijalani dan hati bertumpuk berlapis di atas tulang yang dibawa lahir. Ekspresi yang kerap dikenakan, kebiasaan hati, sikap terhadap hidup sedikit demi sedikit menggeser, selama bertahun-tahun, bayang dan cahaya puncak-puncak itu. Dahi yang dahulu selalu berkerut menjadi lapang; mulut yang dahulu mengeras menjadi lembut — itulah bukti bahwa Lima Puncak hidup dan bergerak.
Maka membaca wajah lebih merupakan mengangkat cermin yang memantulkan siapa dirimu kini ketimbang meneguhkan takdir yang tetap. Di sinilah alasan FortuneLeaf memperkenalkan Lima Puncak. Bukan untuk membariskan orang berdasar puncak mana yang tinggi atau rendah, melainkan — seperti keselarasan yang dibentuk lima gunung dengan saling menopang — membiarkanmu menatap dengan lembut bagaimana banyak sisimu berpadu. Sebab gunung-gunung sebuah wajah bukanlah takdir yang mengeras, melainkan bentang hidup yang ekspresi dan hati hari ini bentuk ulang, sedikit lagi, setiap hari.